Trip To Dieng Longweek Natal 2015

 2015, Jelajah

DAY I

Perjalanan ini merupakan perjalanan ketiga saya di tahun 2015. Yah bisa dibilang tahun ini traveling saya lebih sedikit di banding tahun 2014. But, no problem lah yang penting bisa tetap hepyyyy ^_^

Perjalanan ini awalnya direncanakan berjumlah 5 (lima) orang tapi karena berbagai pertimbangan dan kepentingan akhirnya yang berangkat cuma 2 (dua) orang hahaha dan cewek semua hehe. Tapi tidak masalah, hanya berdua pun, yang namanya liburan akhir tahun tetap oke lah ^_^

Liburan ke Dieng ini memang sudah direncanakan sebelumnya, pengen traveling yang dekat namun bisa santai sambil refresh dari rutinitas kerja dan alhasil Dieng lah yang menjadi pilihan kami. Dengan pertimbangan lokasi yang tidak terlalu jauh juga (biasanya kami bisa sampai keluar pulau untuk perjalanan di penghujung tahun) dan bisa dijangkau dengan motor karena sudah kehabisan paket wisata akhirnya goes to Dieng pun dengan motor kesayangan hehehe 😀

Perjalanan berangkat dari Jogja pukul 12.30 WIB dan perut sudah meronta-ronta minta jatah makan karena kami belum sarapan dan saya mengajak temen saya itu makan bebek goreng Rahayu dekat RS BKIA Magelang (jadi masih harus nahan lapar 1 jam an hahaha). Rasa bebek goreng Rahayu ini bisa dibilang ngalahin rasa bebek goreng yang sudah sangat terkenal dan memiliki cabang dimana-mana (tahulah maksud saya hihihi). Kita sampai di warung bebek Rahayu pukul 13.30 dan masing-masing memesan bebek goreng dengan sambal ijonya hehhmmm yummy >.<

Setelah puas menikmati makan siang, kami melanjutkan kembali perjalanan ke utara. Perjalanan yang kami perkirakan memakan waktu 3,5 – 4 jam ternyata ampun ampuh deeehhhh >.<. Kami memasuki wilayah Dieng waktu sudah menunjukkan pukul 18.45 WIB, bisa diperkirakan lama perjalanan kami dikarenakan kondisi kemacetan selama perjalanan terutama di sepanjang jalan menanjak menuju Dieng. Selain dikarenakan longweek hari Natal, kondisi jalan menuju ke Dieng sedang diperbaiki sehingga harus mengantri satu arah bergantian.

Sampai di Dieng, kami menghubungi Mas Agus yang sebelumnya kami memang sudah memesan kamar homestay untuk 1 (satu) malam. Sesampai di homestay, kami disambut dengan baik dan ramah oleh pemilik homestay. Jadi kesimpulannya adalah Mas Agus ini adalah guide yang selain menawarkan paket wisata, si Mas juga menawarkan penginapan atau homestay di sekitaran Dieng.

Setelah beristirahat dan mandi serta sholat, kemudian kami ngelayap di malam hari untuk mencari makan malam. Alhasil setelah berputar-putar, kami mencoba menuju warung makan yang memang banyak pengunjung yang sedang makan di sana. Sebuah pemikiran sederhana dimana jika banyak orang pasti makanannya enak hahaha. Padahal hal tersebut tidak menjamin rasa, bisa saja pengunjung tersebut juga sama seperti kami yang hanya mencoba makanan saja hehe. Tapi tidak ada salahnya dan tidak menyesal juga karena nasi goreng yang kami pesan memang rasanya oke lah (mungkin dikarenakan kami lapar juga hahaha).

Setelah kenyang, kami kemudian kembali ke homestay untuk beristirahat karena rencananya kami akan melihat sunrise di Bukit Sikunir. Tapi yah, apa daya ternyata rasa lelah sangat menggelayuti karena perjalanan panjang kami seharian ini sehingga mata tidak bisa bersahabat untuk menyaksikan keindahan cahaya pagi bersinar di Bukit Sikunir. Maybe next time we’ll comeback to Dieng to see sunrise @Bukit Sikunir ^_^

DAY II

Kami baru bisa bersiap untuk menjelajahi Dieng pada pukul 09.00 dengan sarapan pagi tentunya. Dan dikarenakan teman seperjalanan saya sangat penasaran dengan yang namanya mie ongklok akhirnya kami mencoba mencari warung di sekitaran basecamp pendakian Gunung Prau (jadi ingat pendakian ke Gunung Prau setahun yang lalu hehe). Alhamdulillah kami mendapatkan rasa yang okelah untuk semangkuk mie ongklok dengan sate sapinya ^_^ . Ya bisa diperkirakan juga dikarenakan lokasi wisata, untuk harga semangkuk mie dibandrol dengan harga Rp 15.000,00 sudah termasuk sate 2 tusuk.

mie ongklok

Mie ongklok menu sarapan dengan segelas jahe hangat

Di warung ini kami juga sempat mengobrol dengan teman-teman dari Surabaya yang melakukan traveling ke Yogyakarta, Kulonprogo, Dieng, dan berakhir di Semarang. Dari informasi mereka, kami mengetahui bahwa rute transportasi mereka dari Yogyakarta yaitu naik bis menuju Terminal Tidar Magelang (12rb), dilanjut oper bis menuju Wonosobo (Rp 25rb), dan dilanjutkan dengan naik angkutan umum menuju Dieng dengan tarif 20rb perorang. Jadi yah, memang sudah pasti dan jelas transportasi pribadi lebih hemat apalagi motor hehehe

Sambil makan kami merencanakan perjalanan untuk hari ke2 berada di Dieng ini sehingga diputuskan kami akan ke wisata sejarah candi dan wisata telaga. Oh iya, jika berada di sini saat hari Natal sangat tidak terasa nuansa Natal itu ada. Mungkin karena mayoritas masyarakatnya Muslim dan perayaan2 seperti itu memang tidak diadakan di sini.

Setelah membayar ke ibu empunya warung, kami melanjutkan perjalanan menuju Komplek Candi Arjuna yang memang letaknya tidak terlalu jauh dari homestay maupun warung makan. Untuk tiket masuknya sendiri perorang adalah Rp 10.000,00 sudah termasuk kunjungan ke Kawah Sikidang. Melihat pemandangan hiruk pikuk kemarin, sebenarnya tanpa membayar retribusi tiket pun kami bisa berkunjung ke komplek candi karena memang pengawasan yang dilaksanakan petugas jaga kurang maksimal. Hal tersebut dikarenakan banyaknya pengunjun,  namun setelah parkir motor saya mengajak teman saya untuk tetap ke loket membayar retribusi tiket. Toh dengan membayar retribusi, kami juga turut berperan serta dalam meningkatkan PAD di Dieng.

tarif tiket

Tarif tiket kunjungan wisata di Dieng

  1. Komplek Candi Arjuna

Komplek ini dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara, bekerjasama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saat kami berkunjung ke komplek candi ini, banyak pengunjung keluarga yang datang karena memang lokasi dan pelataran candi sangat hijau rumputnya yang sangat mendukung untuk dijadikan sebagai alternatif wisata keluarga. Bahkan banyak yang menyebut komplek candi ini dengan sebutan Bukit Teletubbis, karena kenapa??mungkin gambar di bawah ini bisa menjelaskannya hehehe

bukit teletubies

Halaman candi yang menjadi Bukit teletubbies menjadi satu atraksi terbaik bagi pengunjung keluarga

jasa foto

Masyarakat yang memanfaatkan kunjungan wisata

Di dalam komplek ini juga terdapat Telaga Balekambang dan Candi Setyaki. Telaga Balekambang itu sendiri masih belum maksimal dikelola dan dimanfaatkan dikarenakan akses menuju telaga dan atraksi telaganya sendiri bisa dikatakan tidak terlalu menarik sehingga bagi pengunjung yang penasaran dengan keberadaan telaga ini dan kemudian menemukannya, maka mungkin mereka hanya akan berkomentar “oohh ini to telaganya”. Dibutuhkan optimalisasi dalam pengelolaan Telaga Balekambang agar dapat lebih mendukung kunjungan ke komplek candi ini.

dimanfaatkan untuk rest area

Situs cagar budaya saat memasuki area komplek candi

papan larangan menuju telaga

Papan larangan mendekat ke bibir telaga

telaga balekambang yang tidak terlalu nampak

Si teman lg nampang di pinggir telaga Balekambang

Untuk Candi Setyaki sendiri berada bersebelahan dengan Candi Arjuna dan Candi Setyaki merupakan candi tunggal, berbeda dengan Candi Arjuna yang terdiri dari beberapa candi kecil. Candi itu sendiri pada masa lalu adalah merupakan tempat bersembahyang umat dan Komplek Candi Arjuna ini merupakan candi bercorak agama Siwa atau Hindu. Jika melihat pengelolaan dan pemanfaatannya, sebenarnya diperlukan penataan dan penertiban kunjungan karena pada dasarnya untuk kunjungan di candi para pengunjung dilarang memanjat maupun melakukan kegiatan komersial di Zona I yang merupakan zona pelindungan candi. Dari kunjungan kemarin, memang ditemui beberapa pengunjung yang berfoto dengan memanjat candi, berdagang di halaman candi, bahkan makan dan merokok di area candi.

selva at candi arjuna hahaha

Nampang ngeksis doelooeee hahaha

vandalisme di candi

Foto memanjat candi bukan contoh yang pantas ditiru yaaa ^_^

komplek candi setyaki

Komplek Candi Setyaki

Mungkin karena pengelolaan yang jauh dari kantor dinas setempat sehingga peningkatan kesadaran kepada pengunjung masih belum bisa maksimal. Hal-hal yang dilarang dilaksanakan di area candi pada dasarnya adalah untuk meningkatkan pelestarian candi itu sendiri. Jika diperhatikan, ketika berkunjung di candi-candi yang ada di Indonesia memang pengunjung diharapkan tidak merokok di area lindung candi terutama di Komplek Candi Borobudur yang merupakan Kawasan Cagar Budaya bebas asap rokok. Namun hal tersebut kembali kepada bagaimana koordinasi antara dinas terkait dan balai pelestarian serta masyarakat sekitar candi karena pada dasarnya masyarakat sekitar candilah yang memiliki peran paling besar dalam rangka melestarikan candi.

Kembali kepada perjalanan kami 😀 setelah berfoto-foto di area komplek candi maka kami kembali melanjutkan perjalanan ke Telaga Warna, Telaga Pengilon, dan Batu Ratapan Angin yang memang akhir-akhir ini sangat populer di kalangan pecinta traveling alam. Oh iya, di komplek candi ini perlu ditambahkan papan informasi mengenai candi ^_^2.

2. Telaga Warna

Obyek wisata kedua yang kami kunjungi adalah Telaga Warna. Pada dasarnya Telaga Warna ini merupakan satu kesatuan dengan Telaga Pengilon dan Batu Ratapan Angin maupun obyek wisata lainnya. Terakhir kali saya mengunjungi telaga ini adalah setahun lebih yang lalu, waktu itu saya dengan teman-teman melakukan pendakian ke Gunung Prau sebelum salah satu teman kami bekerja di luar Pulau Jawa karena diterima bekerja di Kejaksanaan Pulau Alor. Waktu itu kami beramai-ramai muncak ke Gunung Prau dan sangat sangat menikmati perjalanan kami waktu itu.

Pada traveling kali ini, warna dari telaga tidak secantik dulu sewaktu mampir sebelum pendakian Gunung Prau namun karena teman saya belum pernah ke sini akhirnya kami tetap foto-foto di sekitar telaga.

telaga warna

 

3. Telaga Pengilon

telaga pengilon

Nama Telaga Pengilon berarti “cermin” untuk kita melihat sisi baik dan buruknya sifat yang ada dalam menjalani kehidupan (menuwisatadieng.wordpress.com). Letak Telaga Pengilon bersebelahan dengan Telaga Warna. Untuk menuju ke telaga ini sudah terdapat papan petunjuk arahnya jadi tinggal mengikuti arahnya saja dan di sepanjang menuju ke telaga akan kita jumpai para warga yang menjajakan camilan khas Dieng diantaranya yaitu kentang goreng dan jamur tiram. Bahkan kami juga menemui bapak penjual jagung bakar, memang di tempat yang dingin seperti di Dieng makanan yang hangat selalu menjadi daya tarik tersendiri. Kami juga tidak ketinggalan menikmati camilan asli Dieng ini, saya membeli jamur tiram tepung dan teman saya membeli kentang goreng. Heeeemmmm yummy ^_^

Setelah berfoto sejenak, dikarenakan waktu juga sudah mulai siang maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi. Di pintu keluar loket telaga, kembali saya menemui camilan wajib ketika berkunjung di daerah pegunungan hahaha. Kembalilah menyantap 1 (satu) bungkus camilan ini hihihi

camilan cilok

Camilan yang tidak akan terlewatkan ketika berkunjung di wilayah pegunungan ^_^

 

4. Dieng Plateau Teater dan Batu Ratapan Angin

Lokasi obyek wisata tujuan kami berikutnya adalah Dieng Plateau Teater atau yang lebih sering disebut DPT yang memang berdekatan dengan akses menuju Batu Ratapan Angin. Arah menuju Batu Ratapan Angin sendiri sebenarnya bisa dijangkau melalui Telaga Warna, jalan menanjak melewati mushola namun dikarenakan waktu jua akhirnya kami memutuskan berkendara motor menuju Batu Ratapan Angin melalui DPT untuk menghemat waktu perjalanan kami. Sebenarnya kami juga ingin turut menyaksikan film di DPT, namun dikarenakan antri dan takutnya semakin sore akhirnya kami langsung menuju Batu Ratapan Angin.

DPT

Suasana ketika berada di Dieng Plateau Theater sebelum menuju Bukit Ratapan Angin

Jika dilihat dari papan petunjuk arah, untuk menutu ke Batu Ratapan Angin harus melakukan perjalanan menanjak kurang lebih 30 menit. Bagi rekan-rekan yang memang jarang maupun belum pernah mendaki ya memang harus berkali-kali beristirahat. Jalur yang kami lewati juga telah berbentuk jalan setapak karena memang obyek wisata ini telah diresmikan oleh Presiden kala itu yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang mana obyek wisata Batu Ratapan Angin ini menjadi salah satu andalan wisata di Dieng.

jalur ke ratapan angin

Jalur pendakian menuju Bukit Ratapan Angin

Setelah melakukan beberapa perjalanan di kelokan menanjak menuju bukit, kami sampai juga di loket tiket dan kemudian membayar tiket masuk. Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncaknya, dan selama di perjalanan kami melihat bahwa selain view atau pemandangan dari puncak kami juga menemui atraksi flying fox yang memang lumayan membuat dag dig dug seer bagi yang belum pernah melakukan petualangan ekstrim ini hahaha.

menggoda untuk dicabut flyingfox

Kami mengabadikan beberapa momen dari bebarapa puncak batu karena memang di area puncak bukit ini terdapat beberapa puncak batu yang bisa dijadikan obyek fotografi. Subhanallah

Memang maha besar ciptaan ALLAH SWT atas bumi dan seisinya, kita bisa memandang dan menikmati ciptaan-Nya saat ini dengan rasa syukur

Sungguh cantik, sungguh menawan hati ^_^

batu ratapan angin 1 batu ratapan angin 2

Setelah puas berfoto-foto dan duduk-duduk menikmati semilir angin dan indahnya obyek Telaga Warna dan Telaga Pengilon di kejauhan, kami kembali turun untuk melanjutkan rute wisata kami yang terakhir yaitu Kawah Sikidang

5. Kawah Sikidang

Di Kawah Sikidang ini kami sempat salah jalan saat menuju pintu keluar karena ternyata saat kami masuk sebelumnya melewati area parkir yang sepi dari pengunjung. Kami menyadarinya setelah sampai di lokasi yang menurut kami merupakan pintu keluar,namun ternyata adalah pintu masuk dan parkir kendaraan area kawah. Akhirnya kami memutar kembali menuju area parkir selatan. Di Kawah Sikidang ini kami sempat membeli bubuk belerang untuk dimanfaatkan di rumah sebagai obat gatal, obat jerawat, dan sakit karena jamur. Karena ibu saya kebetulan sering merasa gatal di punggung, akhirnya saya membeli 2 (dua) bungkus dengan harga masing-masing 7500-10.000 perbungkus. Untuk membeli bubuk belerang ini harus melakukan tawar menawar dengan ibu-ibu pedagang.

Di lokasi wisata ini pula kami juga mencoba camilan Kue Sagon rasa carica dan rasanya heeemmm yummy delicious sweetest cake hihihi. Buat rekan-rekan yang datang ke sini, cobain deh rasa kuenya. Enak lhhooohhh. Kami juga membeli beberapa oleh-oleh lainnya diantaranya adalah carica dan kentang merah. Of course, buat emak babe di rumah lah hahaha. Sangat disarankan oleh kami nih, buat rekan-rekan yang ingin membeli oleh-oleh sangat disarankan membeli di lokasi wisata daripada di toko oleh-oleh di sepanjang perjalanan. Kami kemarin membeli carica 1pack isi 6cup ukuran kecil setelah ditawar perpack harga 12.500 dan ketika perjalanan pulang menuju Yogyakarta kami juga sempat membeli oleh-oleh karena merasa masih kurang, akhirnya mampir ke toko oleh-oleh dan harganya lumayan selisih 7rb dari yang kami beli sebelumnya di area Kawah Sikidang.

Di lokasi Kawah Sikidang juga terdapat pasar oleh-oleh tradisional,nhah rekan-rekan traveler bisa juga membelinya di sana. Selain harganya lebih murah juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat asli Dieng.

Setelah melakukan eksplore ke beberapa obyek wisata, pukul 17.00 WIB kami kembali ke homestay untuk mengambil tas ransel yang kami titipkan kepada pemilik homestay sebelumnya. Setelah berpamitan juga kepada Mas Agus, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Yogyakarta. Yah masih sama dengan perjalanan berangkat kami, pulangnya juga kami mengalami kemacetan yang lumayan menuju jalan yang rusak karena memang beberapa motor dan mobil yang ngadat turut menghambat perjalanan kami. Namun alhamdulillah kami mampu dengan lebih baik berhasil keluar dari kemacetan jalan tanjakan.

kemacetan

Untuk rute pulang, kami mencoba jalur alternatif menuju Wonosobo dengan pertimbangan peakseason pastinya jalur alternatif juga lumayan ramai. Namun apa yang kami perkirakan tidak menjadi kenyataan. Pada awalnya memang ada beberapa kendaraan bermotor dan mobil yang berbarengan dengan kami melalui jalur alternatif, namun semakin lama semakin kami sendiri dan hari semakin malam karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB lebih. Kami sempat gamang untuk kembali menuju jalur utama namun dikarenakan sudah setengah perjalanan, kami tetap melanjutkannya dengan tetap berdoa kepada Allah SWT. Kondisi jalan yang sangat sepi dan sekeliling hutan membuat kami takut juga, apalagi bensin motor kami yang semakin menipis.

Kami hanya bisa berdoa agar cepat terlihat perkampungan dan menjadi merasa lega ketika melihat lampu-lampu perkampungan walaupun tidak banyak rumah kami jumpai. Kami sempat mengisi bensin kemudian bertanya kepada pemilik warung apakah jalan utama masih jauh, dari informasi ibu pemilik kampung bahwa jalan utama sudah dekat dan kami merasa sangat lega karena berikutnya beberapa motor juga melewati kami. Saran juga kepada rekan-rekan yang melakukan perjalanan pulang menuju arah Magelang, Yogyakarta sangat TIDAK DISARANKAN melewati jalur alternatif jika tidak berada dalam rombongan yang banyak. Sangat ekstrim dan screaaammmmmmmm hwaaaaaa

Setelah mencapai jalan utama Wonosobo menuju Parakan, kami menjadi sangat lega dan sempat mampir di toko oleh-oleh seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB saat kami mampir ke toko oleh-oleh. Sebenarnya kami merasa sangat lapar waktu itu, namun kami memutuskan menu makan malam kami adalah seafood MT Cak Subur di Magelang, depan Metrosquare. Kebetulan saya lumayan sering makan di sana sewaktu masih kost dulu.

Sekitar pukul 21.00 kami sampai ke warung seafood MT dan memesan menu kepiting saus tiram, cumi tepung goreng, dan minum 3 gelas untuk berdua hahaha. Kami lumayan mengistirahatkan kaki kami agar dapat melanjutkan perjalanan pulang ke Yogyakarta dengan lebih nyaman. Kami sampai di rumah pukul 23.30 WIB untuk kemudian beristirahat di my sweetttt roommmmm hahaha

Puas dengan perjalanan di penghujung tahun ini. Semoga rekan-rekan bisa segera berkunjung ke Dieng dan semoga travel story ini dapat memberikan gambaran rekan-rekan yang ingin mencoba traveling ke Dieng ^_^

Author: 

Seseorang yang mencoba untuk selalu menjadi lebih baik lagi

No Responses

Leave a Reply